Ads 468x60px

Bercinta Dengan Tante Yanti



Panggil saja aku ade, panggilan sehari-hari meski aku bukan orang dewasa, Aku baru saja keluar SMA. Aku tinggal di sebuah perumahan di pinggiran kota pontinak. Daerahnya mirip-mirip di PI deh, tapi bukan perumahan “or-kay” kok.

Sekitar beberapa tahun lalu di perumahan yang baru aku tempati ini, aku mempunyai tetangga  yang di huni oleh 5 anggota keluarga. Tiga orang dewasa dan 2 orang masih anak anak

Awalnya mereka jarang kelihatan, namun sekitar dua minggu kemudian mereka sudah cepat akrab dengan tetangga tetangga sekitar.

Ternyata penghuninya seorang wanita dengan perkiraanku umurnya baru 30-an, anak perempuannya yang masih kecil dan seorang anak umur 7-8th sudah sekolah .

Nama lengkapnya aku tidak tahu, namun nama panggilannya Tante Yanti dan adik laki-lakinya beda beberapa tahun kita sepantaran denganku

Ternyata Tante Yanti adalah seorang IRT, asal kota singkawang . Sikapnya friendly, gampang diajak ngobrol.

Tapi, yang paling utama adalah penampilannya yang selalu “mengundang Birahiku”. Rambutnya agak panjang di bawah bahu. Kulitnya putih. Bodinya tidak langsing tapi kalau di lihat terus, malah jadi seksi. Meskipun Payudaranya juga tidak besar.
Yang  mengundang birahiku adalah Tante Yanti sering memakai baju sleeveless dengan celana pendek sekitar empat jari dari lutut. Kalau duduk, celananya nampak sempit oleh pahanya.

Wajahnya tidak cantik-cantik amat, wajah ciri khas Indonesia-cina, tipe yang disuka orang-orang pontianak. Seperti bodinya, wajahnya juga kalau diperhatikan, apalagi kalau bajunya agak “terbuka”, malah jadi muka-muka ranjang gitu deh.

Dari cara berpakaiannya aku mengira kalau Tante Yanti  itu Hypersex. Meski buah dadanya tidak terlalu besar, kecocokan pakaiannya justru membuat Tante Yanti jadi seksi. Nampaknya aku mulai sindrom terserang istri tetangga sebelah rumah nih yang haus sex.

Berhari-hari berlalu, nafsuku terhadap Tante Yanti semakin bergolak sehingga aku sering nekat ngumpet di balik semak-semak, onani sambil melihati Tante Yanti kalau sedang di luar rumah apa lagi selagi Tante Yanti  mencuci pakain di belakang rumahnya aku sering intip dan onani.

Karena kecantikan dan kulit putihnya. Nafsu besarku kadang-kadang membuatku ingin menunjukkan batangku di depan Tante Yanti dan onani di depan dia.

Pernah sesekali kujalankan niatku itu, namun pas Tante Yanti lewat, buru-buru kututup “anu”-ku dengan baju, karena takut tiba-tiba Tante Yanti  melapor sama ortu ku. Tapi, kenyataannya berbeda. Tante Yanti justru menyapaku, (dan kusapa balik sambil menutupi kemaluanku), dan pas di depan halaman rumahnya, ia tersenyum sinis yang menjurus ke senyuman nakal. “Ehem.. hmm..” dengan sorotan matanya yang nakal pula. Sejenak aku terbengong dan menelan ludah, serta malah tambah Nafsu.

Kemudian, pada suatu waktu, kuingat sekali itu hari Rabu. Saat aku pulang kuliah dan mau membuka pagar rumah, Tante Yanti  memanggilku dengan lembut, “

Tante Yanti : "De, sini dulu.. " Tante bikinin makanan nih buat papa-mamamu.”

Langsung saja aku jawab, “Ooh, iya Tante..” Nafasku langsung memburu, dan dag dig dug.

Setengah batinku takut dan ragu-ragu, dan setengahnya lagi justru menyuruh supaya “Mengajak” Tante Yanti. untuk memakai baju sleeveless hitam, dan celana pendek hitam juga.

Setelah masuk ke ruang tamunya, ternyata Tante Yanti hanya sendirian, katanya suami lagi kerja dan anak-anaknya lagi sekolah.

Keadaan tersebut membuatku semakin dag dig dug. Tiba-tiba Tante Yanti memanggilku dari arah dapur,

Tante Yanti : “De, sini nih.. makanannya.” Memang benar sih, ada beberapa piring makanan di atas meja makan yang sudah Tante Yanti susun.

Saat aku mau mengangkat bakinya, tiba-tiba tangan kanan Tante Yanti mengelus pinggangku sementara tangan kirinya mengelus punggungku. Tante Yanti lalu merapatkan wajahnya di pipiku sambil berkata,

Tante Yanti : “De, mm.. kamu.. nakal juga yah ternyata..”

Dengan tergagap-gagap aku berbicara,
De : “Emm.. ee.. nakal gimana sih Tante?” Jantungku tambah cepat berdegup.

Tante Yanti :“Hmm hmm.. pura-pura nggak inget yah? Kamu nakal.. ngeluarin titit, udah gitu ngocok-ngocok..”Tante Yanti meneruskan bicaranya sambil meraba-raba pipi dekat bibirku.

Dengan serentak saja aku tambah gagap plus kaget karena Tante Yanti ternyata mengetahuinya. Itulah sebabnya dia tersenyum sinis dan nakal waktu itu. Aku tambah gagap, “Eeehh? Eee.. itu..”

Tante Yanti langsung memotong sambil berbisik sambil terus mengelus pipiku dan bahkan pantatku.

Tante Yanti: De “Kamu mau yah sama Tante? Hmm?” Tanpa banyak omong-omong lagi, tante langsung mencium ujung bibir kananku dengan sedikit sentuhan ujung lidahnya.

Ternyata benar perkiraanku, Tante Yanti orangnya Hypersex. Aku tidak mau kalah, kubalas segera ciumannya  dengan lembut aku lumatin bibir Tante Yanti.

Lalu kusenderkan diriku di tembok sebelah wastafel dan kuangkat pahanya ke pinggangku. Ciuman Tante Yanti sangat erotis dan semakin bertambah nafsuku.

Kurasakan bibirku dan sebagian pipiku basah karena di jilati oleh Tante Yanti. Pahanya yang tadi kuangkat kini menggesek-gesek pinggangku. Akibat erotisnya ciuman Tante Yanti, nafsuku menjadi bertambah.

Kumasukkan kedua tanganku ke balik bajunya di punggungnya seperti memeluk, dan kuelusi punggungnya. Saat kuelus punggungnya, Tante Yanti mendongakkan kepalanya dan terengah.

Sesekali tanganku mengenai tali BH-nya yang kemudian terlepas akibat gesekan tanganku. Kemudian Tante Yanti mencabut bibirnya dari bibirku, menyudahi ciuman dan mengajakku untuk ke kamar depan di rumahnya.

Kami buru-buru ke kamarnya karena sangat bernafsu. Aku sampai tidak memperhatikan bentuk dan isi kamarnya, langsung direbah oleh Tante Yanti dan meneruskan ciuman. Posisi Tante Yanti adalah posisi senggama kesukaanku yaitu nungging. Ciumannya benar-benar erotis.

Kumasukkan tanganku ke celana dalamnya dan aku langsung mengelus belahan pantatnya yang hampir mengenai belahan pepknya.

Tante Yanti yang Hypersex itu langsung melucuti kaosku dengan agak cepat.
Tapi setelah itu ada adegan baru yang belum pernah kulihat baik di film semi atau pun di BF manapun. Tante Yanti meludahi dada abdomen-ku dan menjilatinya kembali.

Sesekali aku merasa seperti ngilu ketika lidah Tante Yanti mengenai pusarku. Ketika aku mencoba mengangkat kepalaku, kulihat bagian leher kaos Tante Yanti  kendor, sehingga buah dadanya yang bergoyang-goyang terlihat sangat jelas.

Kemudian kupegang pinggangnya dan kupindahkan posisinya ke bawahku. Lalu, kulucuti kaosnya serta BH nya, kulanjutkan menghisapi puting payudaranya. Nampak jelas Tante Yanti kembali mendongakkan kepalanya dan terengah sesekali memanggil namaku.

Sambil terus menghisap dan menjilati puting payudaranya, kulepas celana panjangku dan celana dalamku dan kubuang ke lantai. Ternyata pas kupegang “anu”-ku, sudah ereksi dengan level maksimum. Sangat keras dan ketika ku kocok-kocok sesekali mengenai dan menggesek urat-uratnya. Tante Yanti pun melepas celana-celananya dan mengelusi bulu-bulu dan lubang Pepknya.

Tante Yanti juga mngeluarkan sedikit cairan dari Pepknya dan memasukkan jari-jari tersebut ke mulutku. Aku langsung menurunkan kepalaku dan menjilati daerah “pepek” Tante Yanti. Rasanya agak seperti asin-asin di tambah lagi adanya cairan yang keluar dari lubang “pepek”-nya Tante Yanti.

Tapi tetap saja aku menikmatinya. Di tengah enaknya menjilat-jilati, ada suara seperti pintu terbuka namun terdengarnya tidak begitu jelas. Aku takut ketahuan oleh suami, adik dan anak-anaknya.

Sejenak aku berhenti dan ngomong sama Tante Yanti, “Eh.. Tante..” Ternyata justru Tante Yanti yang meneruskan “adegan” dan berkata, “Ehh.. bukan siapa-siapa.. egghh..” sambil mendesah.
Posisiku kini di bawah lagi dan sekarang Tante Yanti sedang menghisap “lollypop”. Ereksiku  semakin maksimum ketika bibir dan lidah Tante Yanti  menyentuh bagian-bagian batangku.

Tante Yanti mengulangi adegan meludahi kembali. Ujung penisku diludahi dan sekujurnya di jilati dengan perlahan.

Bayangkan, bagai mana ereksiku tidak tambah maksimum?? Tak lama, Tante Yanti yang tadinya nungging, ganti posisi berlutut di atas pinggangku. Tante Yanti bermaksud melakukan senggama. Aku sempat kaget dan bengong melihat Tante Yanti dengan perlahan memegang dan mengarahkan penisku ke lubang pepeknya layaknya film BF saja.

Tapi setelah ujungnya masuk ke liang pepeknya Tante Yanti, kembali aku seperti ngilu terutama di bagian pinggang dan selangkanganku di mana kejadian itu semakin menambah nafsuku.

Tante Yanti mulai menggoyangkan tubuhnya dengan arah atas-bawah awalnya dengan perlahan. Aku merasa sangat nikmat meskipun Tante Yanti sudah tidak virgin lagi.

Di dalam liang itu, aku merasa ada cairan hangat di sekujur batang kemaluanku. Sambil kugoyangkan juga badanku, ku elus pinggangnya dan sesekali buah dadanya kuremas-remas. Tante Yanti juga mengelus-elus dada dan pinggangku sambil terus bergoyang dan melihatiku dengan tersenyum.

Mungkin karena nafsu yang besar, Tante Yanti bergoyang sangat cepat tak beraturan entah itu maju-mundur atau atas bawah. Sampai-sampai sesekali aku mendengar suara “Ngik ngik ngik” dari kaki ranjangnya.

Akibat bergoyang sangat cepat, tubuh Tante Yanti berkeringat. Segera ku elus-elus badannya yang penuh keringat dan ku jilati puting nya dan tanganku mengelus elus buah dadanya.

Lalu posisinya berganti lagi, jadinya aku bersandar di ujung ranjang, dan Tante Yanti menduduki pahaku. Jadinya, aku bisa mudah menciumi bibir dan payudaranya. Juga kujilati tubuhnya yang masih sedikit berkeringat itu, lalu aku menggesekkan tubuhku yang juga sedikit berkeringat kedada Tante Yanti.

Tidak kupikirkan waktu itu kalau yang kujilati adalah keringat karena nafsu yang terlalu meledak. Tak lama, aku merasa akan ejakulasi. “Ehh.. Tante.. uu.. udaahh..” Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, Tante Yanti sudah setengah berdiri dan nungging di depanku.

Tante Yanti mengelus-elus dan mengocok penisku, dan mulutnya sudah ternganga dan lidahnya menjulur siap menerima semprotan spermaku. Karena kocokan tangan Tante Yanti, aku jadi ejakulasi. “Crit.. crroott.. crroott..” ternyata semprotan spermaku ku hitung sampai sekitar tujuh kali dimana setiap kencrotan itu mengeluarkan sperma yang putih, kental dan banyak. Sesekali jangkauan kencrotannya panjang, dan mengenai rambut Tante Yanti. Mungkin ada juga yang jatuh ke sprei. Persis sekali film BF.

Kulihat wajah Tante Yanti sudah penuh sperma putih kental milikku. Tante Yanti yang memang Hypersex, meraup spermaku baik dari wajahnya ataupun dari sisa di sekujur batangku, dan memasukkan ke mulutnya. Setelah itu, aku merasa sangat lemas. Staminaku terkuras oleh Tante Yanti. Aku langsung rebahan sambil memeluk Tante Yanti sementara penisku masih tegak namun tidak sekeras tadi.


Sekitar seminggu berlalu setelah ML sama Tante Yanti. Siang itu aku sedang ada di rumah hanya bersama pembantu (orang tuaku pulangnya sore atau malam, adikku juga sedang sekolah). Sekitar jam satu-an, aku yang sedang duduk di kursi malas teras, melihat Tante Yanti mau pergi entah kemana dengan sepeda motornya. Tak lama kemudian, telepon rumahku berdering. Saat kuangkat, ternyata Tante Yanti yang menelepon. Nada suaranya agak ketus, menyuruhku ke rumahnya lagi .

Katanya Tante Yanti ingin bercinta lagi denganku selagi suami dan orang yang tinggal di rumahnya lagi keluar kerja maupun sekolah.

setengah jam kemudian aku kerumahnya dan langsung duduk Di ruang tamunya, aku duduk berhadapan sama Tante Yanti. Wajahnya tidak seperti biasanya, terlihat jutek, judes, dan sebagainya. Berhubung dia seperti itu, aku jadi salah tingkah dan bingung mau ngomong apa.

Tak lama Tante Yanti mulai bicara duluan dengan nada ketus kembali,”De, Tante mau tanya!””Hah? Nanya apaan?” Aku kaget dan agak dag dig dug.”Kamu mau gituan lagi seperti minggu lalu sama tante mungpung tidak ada orang di rumah”

Tante Yanti nanya langsung tanpa basa-basi.”Ehh.. minggu lalu? Ngapain emangnya?”

Aku pura-pura tidak tahu dan takutnya dia mau melaporkan ke orang tuaku.”Aalahh.. kamu jak nggak usah belagak bego deh.. Emangnya kamu nggak ngerasa?!!” Seketika aku langsung kaget, bengong, dan tidak tahu lagi mau ngapain, badan sudah seperti mati rasa. Batinku berkata, “Mati gue.. bisa-bisa gue diusir dari rumah nih.. nama baik ortu gue bisa jatoh.. mati deh gue kalau ketahuan.”

Tante Yanti pun masih meneruskan omongannya,”Kamu masih napsu sama tante??”

Tante Yanti kemudian berdiri sambil tolak pinggang. Matanya menatap sangat tajam. Aku cuma bisa diam, bengong tidak bisa ngomong apa-apa. Keringat di leher mengucur.Tante Yanti menghampiriku yang hanya duduk diam kaku beku perlahan masih dengan tolak pinggang dan tatapan tajam. Pipiku sudah siap menerima ciuman bibirnya Tante Yanti yang memakai kaos terusan yang mirip daster itu, lalu membuka ikatan di punggungnya dan membuka kaosnya.

Ternyata Tante Yanti tidak mengenakan beha dan celana dalam. Jadi di depanku adalah Tante Yanti yang bugil.

Tante Yanti langsung mendekatkan bibir-nya ke bibirku. Celana pendekku nampak kencang di bagian “anu”.
Kini yang kurasakan bukan ciuman erotis seperti ciuman Tante Yana, namun ciuman Tante Yanti yang lembut dan romantis. Betapa nikmatnya ciuman dari Tante Yanti.

Aku langsung memeluknya lembut Tubuh putihnya Tante Yanti benar-benar sangat mulus. Bulu vaginanya sekilas kulihat sangat banyak agak gelap karena begitu banyaknya bulu.

Sesegera mungkin kulepas celana-celanaku dan Tante Yanti membuka kaosku. Lumayan lama Tante Yanti menciumi bibirku dengan posisi membungkuk. Ku kocok-kocok penis besarku itu sedikit-sedikit. Aku langsung membisikkannya, “Tante Yanti, kita ke kamar yuk..!” Tante Yanti menjawab, “Ayoo.. biar lebih nyaman.” Tante Yanti kurebahkan di ranjangnya setelah kugendong dari ruang tamu.

Seperti ciuman tadi, kali ini suasananya lebih lembut, romantis dan perlahan. Tante Yanti sesekali menciumi dan agak menggigit daun telingaku ketika aku sedang mencumbu lehernya. Tante Yanti juga sesekali mencengkeram lenganku dan punggungku. Kaki kanannya diangkat hingga ke pinggangku dan kadang dia gesek-gesekkan. Dalam pikiranku, mungkin kali ini ejakulasiku tidak lama kibat terbawa romantisnya suasana.

Dari sini aku bisa tahu bahwa Tante Yanti itu tipe orang lembut. Tapi tetap saja nafsunya besar. Malah dia langsung mengarahkan dan menusukkan penisku ke liang senggamanya tanpa adegan-adegan lain.

Gigi atasnya menggigit bibir bawahnya dan matanya terpejam keras persis seperti keasaman makan buah mangga atau jambu yang asem. Tak lama, “Aaahh.. aa.. aahh..” Tante Yanti berteriak lumayan keras, aku takutnya terdengar sampai keluar.

Aku mencoba menggoyangkan maju-mundur di dalam liang pepek Tante Yanti . Tapi, aku merasa sangat enak sekali senggama di liang pepek Tante Yanti .

Tante Yanti  juga ikutan goyang maju-mundur sambil meraba-raba dadaku dan mencium bibirku. Ternyata benar perkiraanku. Sedikit lagi aku akan ejakulasi. Mungkin hanya sekitar 6 menit. Meski begitu, keringatku pun tetap mengucur. Begitupun dengan Tante Yanti .

Tante Yanti Dengan agak menahan ejakulasi, gantian kurebahkan Tante Yanti  kukeluarkan penisku lalu kukocok di atas dadanya., batang penisku jadi lebih mudah tergesek sehingga lebih cepat pula ejakulasinya. Ditambah pula dalam seminggu tersebut aku tidak onani, nonton BF, atau sebagainya. Kemudian, “Crit.. crit.. crott..” kembali kujatuhkan spermaku di tubuh Tante Yanti untuk yang  kedua kalinya.

Kusemprotkan spermaku di dada dan payudaranya Tante Yanti . Kali ini kencrotannya lebih sedikit, namun spermanya lebih kental. Bahkan ada yang sampai mengenai leher dan dagunya. Tante Yanti  yang baru pertamakali melihat spermaku, mencoba ingin tahu bagaimana rasanya menelan sperma. Tante Yanti  meraup sedikit dengan agak canggung dan ekspresi wajahnya sedikit menggambarkan orang jijik, dan lalu menjilatnya.

Terus, Tante Yanti  berkata dengan lugu, “Emm.. ee.. De.. kalo ‘itu’ gimana sih rasanya?” sambil menunjuk ke kejantananku yang masih berdiri tegak dan kencang. “Eh.. hmm hmm.. cobain aja sendiri..” sambil tersenyum ia memegang batang kemaluanku perlahan dan agak canggung.

Tak lama, ia mulai memompa mulutnya perlahan malu-malu karena baru pertama kali. Mungkin ia sekalian membersihkan sisa spermaku yang masih menetes di sekujur batangku itu. segera kubersihkan dengan tissue dan lap.

Setelah selesai, aku yang sedang kehabisan stamina, terkulai loyo di ranjang Tante Yanti , sementara Tante Yanti juga rebahan di samping. Kami berdua sama-sama puas, terutama aku yang puas menggarap istri tetanggaku sampai beberapa kali. Sampai sekarang hubungan kami belum pernah di ketahui oleh suaminya.

Tamat